“Hy
fir, lagi sibuk nggak?” aku segera mengalihkan pandangan ku kearah
sumber suara yang tepat berada di samping ku. Dan aku melihat sesosok
tubuh tegap dengan wajah nya yang rupawan telah duduk di samping ku.
“emmm… nggak kok, emang nya kenapa ar?” Tanya ku kepada arya.
“emang nya anak rohis mau ngadain Tafakur Alam ya?” Tanya arya dan
sejenak aku menatap bola matanya yang hitam pekat, hidung nya yang
mancung, alis mata nya yang tebal dan wajah nya yang…”
“fir, fira! kok bengong sih?” ucapan arya membuyarkan lamunan ku. Dan
aku tersadar dengan raut wajah yang merah karena malu. Hadduh… bodoh
sekali aku ini!”
“ehh.. maaf ar. Oia tadi nanya apa ya?”
“emang nya anak rohis mau ngadain tafakur alam?”
“oh itu, iya ar. Rencana nya kita mau ngadain acara tafakur alam setelah semester nanti. Emang nyakenapa?”
“acaranya tanggal berapa? kalau bisa sih jangan sampai bentrok sama turnamen basket.”
“lho emang nya kenapa kalau bentrok?”
“aduuuh… udah gede tetap aja polos. Hehehehe.” Goda arya yang membuat ku senyum-senyum sendiri.
“iihh… arya, aku kan emang nggak ngerti dan nggak paham maksud kamu.
Lagian apa hubungan nya antara tafakur alam sama turnamen basket?” aku
semakin bingung di buatnya.
“gini lho fir, nanti kalau acara tafakur alam nya bentrok sama turnamen
basket, bisa-bisa sekolah kita nggak ada supporter nya dong. Ngerti?”
ucap arya dengan senyum manis yang disertai dengan lesung pipi nya yang
terselip diantara wajahnya yang tampan.
“hehehe gitu ya. iya iya aku ngerti kok. Nanti aku kabarin lagi deh sama
kamu, soalnya aku sama anak-anak rohis juga belum menentukan tanggal
nya. Emang turnamen basket nya tanggal berapa?”
“tanggal 17 fir. Kalau bisa jangan sampai bentrok ya. aku ke kantin dulu ya. bye.” Lalu arya beranjak meninggalkan ku.
°°°°°°°
Well… kejadian kemarin siang itu ngebuat aku jadi senyum-senyum
sendiri. Masih terbayang dengan jelas betapa tampan dan manis nya wajah
arya. Aku cukup dekat dengan arya, kita sudah berteman sejak kita masuk
di sekolah yang sama. Sudah tiga tahun ini aku menjadi pengaggum rahasia
nya. Oh.. tuhan entah sampai kapan aku harus memendam perasaan ini.
Perasaan yang sukses membuat hati ku tertutup untuk orang lain kecuali
arya.
°°°°°°
“asalamualaikum ukhti.” Wulan datang menghampiri ku saat aku sedang sibuk membuat susunan acara tafakur alam di ruang rohis.
“wa.alaikum salam. Wulan, kamu itu bikin kaget aja deh.” Ucap ku tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop ku.
“lagian kamu serius banget. Oia, ini anggaran dana untuk tafakur alam udah aku buatin. Kamu cek lagi ya. takut ada yang salah.”
“oke deh. Makasih ya udah mau bantuin aku.” Aku tersenyum menatap sahabat ku ini.
“afwan ukhti. Aku siap 24 jam untuk bantuin kamu. Hehehehe.”
“oia, untung saja acara ini nggak bentrok sama turnamen basket.”
“lho emang nya kenapa?” Tanya wulan seraya mengambil air minum dari dalam tas nya.
“kalau acara ini bentrok sama turnamen basket, bisa-bisa team basket sekolah kita nggak ada supporter nya.”
“oh gitu. Ya ya ya aku ngerti. Ahh… tapi bilang aja supaya kamu bisa
dukung arya di turnamen itu. iya kan? hayooo ngaku. Hehehehe” wulan
menggoda ku dengan semangat. Wajah ku merah merona dibuat nya.
“ahh..wulan. aku kan jadi malu. Hemph… terkadang aku bingung sama
perasaan aku ke arya.” Ucap ku seraya mematikan tombol off pada laptop
ku dan memasukan nya ke dalam task u.
“bingung kenapa?”
“kamu tau kan, aku sudah menyimpan perasaan ini sejak dahulu, tapi aku
nggak pernah bisa dan nggak pernah ada keberanian untuk ungkapin ke
arya.” Ucap ku dengan nada sendu
“terus mau sampai kapan kamu menyimpan perasaan itu?”
“entah lah.” Jawab ku singkat.
°°°°°°
Waktu terus berjalan, raja siang seakan cepat berganti dengan dewi
rembulan. Detak jarum seakan cepat berputar, namun perasaan ku terhadap
arya tak kunjung hilang. Hari ini ujian semester telah berakhir, dan itu
artinya tinggal beberapa hari lagi turnamen basket akan segera di
laksanakan. Aku sangat antusias menyambut nya, aku sudah tidak sabar
melihat arya berlaga di lapangan basket.
“fira!.” aku menghentikan langkah ku.
“iyah ar? ada apa?” Tanya ku
“kamu mau kemana? aku mau ke kantin, soalnya wulan udah nunggu aku disana. Emang nya kenapa? kamu mau ke kantin juga?”
“emm… mggak kok. Titip salam aja deh buat wulan.” Arya tersenyum manis
dan aku menikmati indah nya senyuman itu. ahhh… lagi-lagi hati ku
bergetar di buatnya.
“oke. Nanti aku sampaikan salam kamu.” Entah ini yang ke berapa kali nya
arya sering menitipkan salam unutk wulan. Terkadang aku merasa cemburu
jika arya mengatakan hal itu. tapi apa boleh buat, aku tidak memiliki
hak untuk melarang apalagi untuk cemburu. Dan aku segera mengusir
pikiran buruk itu dari pikiran ku.
“oia fir, di hijab kamu kaya nya ada kotoran deh.” Ucap arya
“astagfirullah, masa sih ar? dimana?” aku reflex membersihakan seluruh hijab ku dengan ke dua tangan ku. Namun tiba-tiba… ”
“aku bercanda fir. Oia, aku tunggu kamu di turnamen nanti. Bye.”
Tiba-tiba arya mendekatkan wajah nya kearah ku dan membisikan kata-kata
itu tepat di telinga ku. Ya tuhan… sungguh, apakah ini nyata? aku sedang
tidak bermimpi bukan?. Aku hanya bisa terpaku dalam diam, membayangkan
dan mengingat setiap inci gerakan serta ucapan yang baru saja arya
katakan pada ku. Tutur katanya, tatapan nya dan cara nya yang membuat ku
salah tingkah seakan menjadi setetes oase yang mampu menyejukan hati
ku.
°°°°°°
“Makasih ya kalian udah mau datang.” Ucap arya saat kita sedang
berada di Gor untuk menyaksikan turnamen basket antar sekolah
Se-Yogyakarta.
“afwan ar. Selamat ya atas kemenangan nya. Sebagai hadiah nya, nanti
kalian main ke rumah ku ya. nanti aku masakin Gudeg special. heheh” Ucap
ku seraya menjulurkan tangan ku di susul dengan wulan yang berjabat
tangan dengan arya. Alhamdulilah, untuk yang ke sekian kali nya team
basket sekolah ku menjadi juara dalam turnamen basket antar sekolah
Se-Yogyakarta.
“wahh boleh tuh. Asik nih makan gratis hehehe. oia, aku mau ngomong sebentar sama wulan. Boleh kan?”
“oh iya. Silahkan. “ dan aku membiarkan mereka pergi. Aku hanya mematung
dan bertanya dalam hati, apa yang sedang mereka bicarakan.
°°°°°
Satu minggu kemudian acara tafakur alam pun di selenggarakan. Acara
nya berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Selama kegiatan tafakur
alam tidak terjadi hal-hal yang aneh. Hanya saja aku sering melihat arya
mendekati wulan, namun wulan selalu menghindar. Entah apa yang terjadi
diantara mereka berdua. Aku hanya bisa menyimpan Tanya karena aku tidak
ingin banyak bicara. Wajar saja kalau mereka berdua dekat satu sama
lain, toh mereka juga berteman sejak kita masuk di sekolah ini.
°°°°°°
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.
Sekarang aku sudah semester akhir. Dan beberapa bulan lagi aku akan
melaksanakan Ujian Nasional. Ujian yang akan menentukan nasib ku selama
tiga tahun menuntut ilmu di sekolah ini. Kini kegiatan rohis sudah aku
tinggalkan, aku mulai fokus untuk belajar, sudah banyak tugas, ujian
praktek serta ujian akhir sekolah siap menanti ku sebelum aku
melaksanakan Ujian Nasional.
Aku pun sudah jarang bertemu dengan arya meskipun kita satu sekolah.
Ya.. aku maklumi, hal ini terjadi mungkin karena kami berbeda kelas. Aku
semakin menyibukan diri ku dengan kegiatan pendalaman materi di tambah
lagi dengan bimbel private yang setiap sore rutin aku laksanakan di
rumah bersama guru les ku. Hal ini aku lakukan agar aku bisa lulus
dengan nilai yang baik dan bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutakn
kuliah di Jakarta.
Ya… sekolah ku memang menjalin kerja sama dengan beberapa universitas
ternama di Yogyakarta dan Jakarta. Aku ingin sekali mendapatkan
beasiswa itu, apalagi mendapatkan beasiswa untuk fakultas Psikologi.
Menjadi seorang psikolog adalah mimpi terbesar ku.
°°°°°°
“fir, gimana persiapan kamu buat ujian nasional nanti?” Tanya wulan saat kita sedang berada di kantin.
“alhamdulilah sudah cukup baik. Ya semoga aja hasil belajar ku selama ini nggak sia-sia.”
“amin.” Lalu wulan tersenyum manis.
“oia, kamu mau lanjut kuliah dimana?” Tanya ku
“aku sih mau stay aja di Yogya. Mau kuliah disini dan cari kerja disini. Kamu gimana?”
“emm.. aku sih belum tau, tapi aku lagi usaha buat dapetin beasiswa di
Jakarta. Kamu tau kan kalau aku pengen banget jadi Psikolog.”
“iyah aku tau fir. Itu kan mimpi besar kamu. Aku doa kan semoga terwujud.” Lalu aku dan wulan saling menebar senyum.
“hey, lagi pada ngomongin apa sih?” tiba-tiba arya datang dan mengambil posisi duduk di samping wulan.
“lagi ngebahas tentang rencana kita setelah lulus.” Jawab ku
“maaf, aku duluan ya. mau ke toilet.” Ucap wulan seraya pergi
meninggalkan aku dan arya. Lagi-lagi wulan menghindar setiap kali ada
arya di dekat nya. Hemph… entah lah, aku nggak mau ambil pusing.
“wulan kenapa ya? kalau aku perhatiin, dia menghindar terus setiap ada kamu.’
“emmm… nggak tau deh.”
“oia setelah ini, kamu mau lanjut kuliah dimana ar?”
“aku sih mau stay di yogya aja. Soalnya…?”
“soalnya apa?” Tanya ku penasaran
“soalnya someone special aku akan tetap stay disini.” Bagai disambar
petir di siang bolong, aku tercengang mendengar ucapan arya. Someone
special? siapa? apakah wulan? karena wulan akan tetap stay di yogya. Ahh
aku rasa bukan. Mana mungkin wulan. Aku segera menepis pikiran itu.
karena tidak mungkin jika sahabat ku tega mengkhianati ku. Tak sadar aku
meneteskan air mata ku. Aku pergi meninggalkan arya. Aku menangis
terisak dengan sesak!.
°°°°°°
Setelah ujian berakhir, aku mendapat kabar dari bapak kepala sekolah
jika aku mendapatkan nilai terbaik dan berhak untuk mendapatkan beasiswa
untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. Tanpa pikir panjang aku segera
menerima tawaran beasiswa itu. aku mulai mempersiapkan diri ku untuk
keberangkatan ku ke Jakarta tiga hari lagi. Aku senang karena aku
berhasil mendapatkan apa yang ku mau. Ini mimpi ku dan aku segera
mewujudkan nya.
“selamat ya fir, semoga mimpi kamu untuk menjadi seorang psikolog dapat tercapai.” Ucap wulan saat dia mengantar ku ke airport.
“iya. Maksih ya Lan. Makasih juga karena selama ini kamu udah jadi
sahabat yang baik buat aku. Sering-sering kabari aku ya.” ucap ku seraya
memeluk wulan.
“fir, boleh aku Tanya sama kamu?”
“apa?”
“gimana perasaan kamu sama arya? apa kamu nggak mau ungkapin ke arya?”
“hemph… kayak nya aku akan mengubur perasaan ini dalam-dalam. Dan aku
akan berusaha melupakan arya. Karena dia lebih mencintai orang lain.”
“kamu yakin bisa lupain arya?”
“aku yakin Lan, aku pasti bisa. Percaya deh sama aku.” Aku tersenyum
walau sebenarnya hati ku sangat rapuh. Entah siapa wanita yang arya
cintai. Hingga saat ini, perasaan yang terpendam tiga tahun lalu, harus
ku bisa ku buang jauh-jauh dari hati ku.
°°°°°°
Aku menjalankan tugas ku sebagai seorang mahasiswa sebagaimana
mestinya. Terkadang aku masih sering mengingat masa-masa SMA dahulu. Aku
sering memikirkan, siapa wanita yang dicintai arya selama ini. Selama
aku tinggal di Jakarta, banyak hal yang sebenarnya ingin aku ceritakan
kepada wulan. Namun aku selalu mengurungkan niat ku karena aku takut
mengganggu kuliah wulan disana. Jadi selama 4 belakangan ini, aku tidak
pernah menghubungi wulan meskipun lewat sms atau telepon. Aku hanya
sering melihat beranda nya dalam dunia maya. Dan aku rasa dia baik-baik
saja. Selama 4 tahun pula aku tidak pernah pulang ke Yogya. Aku rindu
Yogya, aku rindu Malioboro, kau rindu ke dua orang tua ku, aku rindu
wulan dan terlebih arya.
Saat ini aku sedang menyelesaikan skripsi ku. Dan insya allah bulan
depan aku akan di wisuda. dan setelah itu aku akan pulang ke yogya dan
akan menemui wulan serta arya.
°°°°°°
Hari ini aku bahagia sekali. Karena aku akan bertemu dengan arya dan
wulan. Kami bertiga akan bertemu di salah satu resto dekat Malioboro.
Aku sudah tidak sabar untuk member tahu mereka jika aku sudah menjadi
seorang psikolog. Mimpi ku telah tercapai. Ya… mimpi ku!
“asalamualaikum ukhti..” ucap wulan seraya menghampiri ku dan memeluk
ku. Dan aku duduk bersebrangan dengan wulan serta arya. Aku, arya, dan
wulan membicarakan banyak hal. Terutama Mengenang masa-masa SMA dahulu.
Obrolan kami berjalan dengan baik tanpa ada terjadi hal aneh. Semua
terasa biasa saja. Dan aku bahagia dapat bertemu dengan arya kembali.
Jujur.. selama 4 tahun aku di Jakarta, aku tidak bisa melupkan arya
sedikit pun. Dan hati ku masih di kuasai oleh sosok indah itu.
“fir, ada yang mau aku sampein sama kamu.” ucap arya
“apa itu ar?”
“ini undangan pernikahan aku. Kamu datang ya.” Ya allah… apakah ini
mimpi? arya menikah? menikah dengan siapa? seakan-akan hati ku terluluh
lantahkan. Tubuh ku kaku. Aku lemas, air mata ku mulai mengembang namun
aku berusaha menahan nya. Dan ku buka perlahan kertas undangan itu.
“Wulan Ayudia Sari?” ya tuhan… itu semakin membuat ku terluka. Rasanya
aku ingin mati saat ini juga. Wulan, sahabat yang selama ini aku anggap
baik dan sudah seperti saudara ku sendiri, dia tega mengkhianati ku
seperti ini. Untung lah aku masih bisa menahan air mata ku.
“kamu kenapa fir?” Tanya wulan
“nggak apa-apa kok. A… aku nggak nyangka aja kalau kalian mau menikah.”
“kamu nggak marah sama aku kan fir? aku udah certain semua nya ke arya
tentang perasaan kamu. Dan kamu juga bilang kalau kamu akan berusaha
untuk ngelupain arya.” Ucap wulan
“jadi selama ini, wanita yang dicintai arya adalah kamu?”
“iya fir, itu sebabnya kenapa arya sering banget titip salam ke kamu
buat aku waktu kita masih SMA dahulu. Waktu di turnamen basket,
sebenarnya arya nembak aku tapi aku tolak karena aku nggak enak sama
kamu. Dan itu sebabnya pula, kenapa aku selalu menghindar setiap kali
ada arya, karena aku mau jaga perasaan kamu. Dan setelah kamu pergi
bahkan kamu bilang kalau kamu akan ngelupain arya, di situ aku mulai
berani untuk mencintai arya. Kamu nggak marah kan fir?” Jelas wulan
panjang lebar. Sungguh ini semua membuat sangat hampa. Andai wulan tau
jika aku tidak pernah bisa untuk melupakan arya.
“untuk apa aku marah? itu hak kalian. Selamat ya atas pernikahannya.
Aku pasti datang. Maaf aku harus pergi. Aku ada janji sama ayah dan ibu
mau makan malam di rumah.” Lalu aku pergi meninggalkan mereka. Selama
perjalanan aku tak bisa menghentikan air mata ku. Rasanya hidup ini
sudah tidak ada artinya lagi. 4 tahun aku berusaha melupakan arya namun
yang ada hanya rasa cinta yang semakin besar. Namun apa kenyataan yang
aku dapat setelah aku kembali ke yogya? justru pil pahit yang harus aku
terima.
°°°°°°
“Fira, kamu kenapa? kok sedih? harusnya kamu senang dong habis ketemu sama arya dan wulan.”
“aku lagi nggak mau bahas mereka bu. “ aku duduk dengan lesu
“yowis kamu makan dulu sana. Ibu udah masakin Gudeg special buat kamu.
Jangan sedih gitu dong, nanti Cantik dan manis nya hilang lho.” Ucap ibu
ku dengan logat jawa nya
“ibu kira aku ini gudeg yang rasanya manis.’’ucap ku dengan nada manja
“Lho anak ibu ini kan memang manis toh. Semanis gudeg yogya.”
“iya bu, tapi kisah cinta ku nggak semanis gudeg yogya.!” aku
melemparkan kertas undangan itu ke atas meja dan meninggalkan ibu ku.
Dan aku segera menuju kamar dengan berlinang air mata.
end
Cerpen Karangan: Putri Sayyidah R.A
Facebook: http://www.facebook.com/Poetrii.alghifarri
Hay Guys!
Perkenalkan, nama ku Safira Ruby Diana, tapi panggil ajah aku fira.
Aku duduk di bangku SMA kelas XII-IPA 1. Aku anak tunggal dari pasangan
Dani Suryoto dan Rindia Diana. Yups… bener banget, nama “DIANA” di
belakang nama ku itu diambil dari nama ibu ku. Mereka adalah orang-orang
yang sibuk, ayah ku adalah seorang marketing di sebuah perusahaan dan
ibu ku adalah seorang ibu rumah tangga namun mempunyai bisnis Online
Shop.
Well.. balik lagi ke perkenalan kita, hehehe. aku bersekolah di salah
satu SMA Swasta yang ada di kota Yogyakarta. Dari kelas satu sampai
kelas tiga ini, aku masih bertahan dengan jabatan ku sebagai ketua Rohis
di sekolah. Aku memang aktif dalam bidang keagamaan. Nggak seperti
cewek-cewek lain yang ngebet banget bisa masuk Team Cheers, entah kenapa
aku lebih tertarik dalam organisasi keagamaan. Selain itu, aku juga
hobi banget sama yang namanya MASAK!! dan aku (bisa dibilang) paling
jago dalam memasak makanan khas Yogya, yaitu GUDEG! hehehe (ini fakta
lho). Dan gudeg adalah salah satu makanan favorit aku bahkan ayah ku
sangat menyukainya.
Hemph… cukup sampai disini ajah kali ya perkenalannya hehehe.....:)
0 comments:
Post a Comment